Ranahpasundan's Blog

Just another WordPress.com weblog

Awal Kebangkitan Tarumanagara Chapter II


"Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara".

"Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara".

  •      Victoria,BC    September 06 2009
  •  

  •  Sebelum Salakanagara ramai diperbincangkan, Kerajaan Tarumanagara lebih dahulu disebut-sebut para akhli sejarah sebagai kerajaan awal di tatar pasundan. Padahal berdasarkan dugaan awal, keberadaan Salakanagara jauh lebih dulu dibandingkan Tarumanagara. Entah bagaimana, Tarumanagara pun dianggap sebagai kerajaan yang didirikan kaum pendatang, para saudagar dari India.Seperti  pada tulisan saya sebelumnya
  • Sekalipun demikian, kepopuleran Tarumanagara didalam sejarah lisan masyarakat sekarang belum dapat mengalahkan cerita tentang Galuh dan Pajajaran, bahkan masih banyak yang menafsirkan bahwa raja-raja Tarumanagara bergelar Purnawarman, sama dengan anggapan bahwa raja-raja Pajajaran bergelar Siliwangi (Silihwangi).
  • Presepsi ini Keliru  !!!!
    Kesalahan dalam cara mempersepsi raja-raja Tarumanagara yang bergelar Purnawarman dimungkinkan, mengingat Purnawarman disebut-sebut sebagai raja yang paling terkenal, mampu memperluas wilayah Tarumanagara, dan banyak di abadikan didalam bentuk Prasasti.
  • Sekalipun demikian, masih banyak para akhli sejarah Jawa Barat, yang masih menyisakan pertanyaan tentang asal-usul Tarumanagara, apakah dari India atau pribumi asli yang menggunakan adat istiadat Hindu ?. 
  •  
  • Keberadaan TarumanagaraSebagai bukti keberadaan Tarumanagara diketahui dari peninggalan berupa Prasasti yang saat ini baru ditemukan tujuh buah dan beberapa arca, batu menhir, perhiasan, batu dakon, kuburan tua, tempayan, dan logam perunggu. Sedang sumber rujukan kisah yang sering dijadikan bahan diskusi berasal dari Naskah Wangsakerta.Mungkin sulit juga diakui keberadaanya jika tidak dikuatkan berita dari luar.
  •  Berita ini menurut sejarah jawa barat tercantum didalam berita-berita dari China. Seperti berita perjalanan Fa-Hsien, Dinasti Sui dan Dinasti Tang. 

    Pada tahun 413 M (Jaman Purnawarman) Fa-Hsien, pendeta Budha dari China. semula ia berniat berlayar ke Srilanka, namun kapalnya terkatung-katung hingga 90 hari, kemudian ia tiba di Ya-va-di (Jawa dwipa) dan menetap selama lima bulan. Selama di Ya-va-di ia lebih banyak melihat Brahmana dari pada pendeta-pendeta Budha. Kisah ini kemudian ditulisnya dalam buku yang berjudul Fa-Kao-Chi.
    Berita kedua lainnya terkait dengan hubungan diplomatic, yakni berita dari Dinasti Sui, menceritakan bahwa tahun 528 dan 535 (masa raja Candrawarman dan Suryawarman) Keduanya adalah anak keturunan purnawarman ,telah datang utusan dari To-lo-mo (Ta-ru-ma) yang terletak di sebelah selatan. Sedangkan Berita Dinasti Tang, juga menceritakan bahwa tahun 666 dan 669 (masa raja Linggawarman) telah datang utusaan dari To-lo-mo. Dari berita dipercayai para akhli, bahwa yang dimaksud dengan To-lo-mo adalah Tarumanagara.

    Berdasarkan sumber-sumber diatas para akhli sejarah menyimpulkan tentang aspek-aspek social dari kehidupan raja-raja dan pendudukan Tarumanegara.

    Tarumanagara mengalami puncak kejayaannya ketika dipimpin Purnmawarman. Ia dianggap raja gagah perkasa, pemberani. panglima perang, membekas dihati rakyat dan tokoh agama sebagai raja yang memperhatikan kesejahteraan rakyat, serta rajin memberikan hadiah kepada para Brahmana.

     

    Jika tidak ditemukan beberapa prasasti, keraguan terhadap keberadaan Tarumanagara akan sama dengan keraguan terhadap Salakanagara. Untungnya Purnawarman termasuk raja yang sangat rajin mengabadikan kejayaannya didalam Prasasti, sehingga tidak mengalami kebuntuan sejarah, sebagaimana yang dialami Salakanagara.

     

    Prasasti terpenting yang mengabarakan keberadaan Purnawarman dimuat dalam prasasti Ciaruten, menjelaskan : “Kedua jejak telapak kaki yang seperti jejak telapak kaki Wisnu ini kepunyaan penguasa dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman raja Tarumanagara”.

     

    Prasasti ini cukup kuat menunjukan Tarumanagara memang pernah ada, sekalipun lokasi dan tanda tanda fisik kedatuannya masih belum diketahui, namun patut diduga, Tarumanagara berada di wilayah Pantai Bekasi. Prasasti inipun menunjukan pula Purnawarman sebagai raja Tarumanagara, sehingga wajar jika Purnawarman dianggap pendiri Tarumanagara.

     

    Keyakinan yang menganggap Purnawarman pendiri Tarumanagara akan menjadi tak terelakan jika tidak ditemukan Prasasti Tugu, yang diperkirakan dibuat abad ke 5 M. Prasasti tersebut menunjukan Purnawarman bukan raja pertama, karena masih ada pendahulunya, yakni Rajadirajaguru. Runtutan kisah ini menjadi tersambungkan jika dihubungkan dengan Kisah Tarumanagara didalam Naskah Wangsakerta, yang dibuat pada abad 17 M (*)

     

    Prasasti yang ditemukan di Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya Bekasi, ditulis dalam huruf palawi menerangkan, bahwa : Purnawarman telah menggali saluran sungai Gomati dalam waktu 20 hari, namun pada bait pertama menyebutkan, : “dahulu sungai Chandrabaga digali oleh Rajadirajaguru…”. Prasasti ini cukup kuat menjelaskan “Purnawarman” bukan raja pertama. Karena menyebut adanya Rajadirajaguru, pendahulunya. Paling tidak Rajadirajaguru adalah pendahulu Purnawarman.

    Awal Mula Kerajaan Agung Tarumanagara

     Rajadirajaguru seperti diuraikan dalam Naskah Wangsakerta,  nama aslinya adalah Sang Maharesi Jayasingawarman, berasal dari Calankayana, India, tiba pada tahun 270 Saka (348 M) di Jawa Barat bersama para pengikutnya, karena negaranya dikalahkan oleh Raja Samudragupta, Magada, India. Kemudian menetap di tepi Sungai Citarum yang termasuk Wilayah Salakanagara. Pada waktu itu Salakanagara diperintah oleh Dewawarman VIII.  Sang Maharesi kemudian menjadi menantu Dewawarman VIII.Karena perkawinan tersebut Jayasingawarman di hadiahi sebuah daerah di Pataruman (waktu itu berupa Desa)dan di sanalah Jayasingawarman mulai membangun wilayahnya.

    Karena kemasyhurannya, desa tersebut semakin hari semakin bertambah penduduknya, bukan karena bertambahnya anak, melainkan juga banyak penduduk dari desa lain yang menetap disana. Lama kelamaan desa tersebut menjadi sebuah Negara. Ia beri nama Tarumanagara.

    Tarumanagara kemudian menjadi sebuah kerajaan kecil di Bawah kerajaan Salakanagara,pada pekembangannya Tarumanagara menjadi lebih maju ketimbang kerajaan  induknya,Salakanagara.

    Sang Maharesi Jayasingawarman kemudian menjadi Rajadirajaguru yang memerintah Tarumanagara, bergelar Jayasingawarman Gurudarmapurusa, memerintah Tarumanagara sejak 280 Saka (358 M) dan wafat dalam usia 60 tahun.

    Jika menyimak penundukan Salakanagara kedalam kekuasaan atau menjadi dibawah perlindungan kerajaan Tarumanagara, memang agak aneh. Karena sebelumnya Tarumanagara termasuk wilayah kekuasaan Salakanagara. Tapi tentunya suksesi ini dilakukan tanpa pertumpahan darah dan jauh dari tanda-tanda adanya perebutan kekuasaan.

    Kesimpulan yang bisa kita tarik benang merahnya adalah ,Prosesi penundukan Salakanagara kepada Tarumanagara dimungkin terjadi secara alamiah. Pertama, Rajadirajaguru raja Tarumanagara munggaran adalah menantu Dewawarman VIII, Ia menikah dengan putri Minawati Iswara Tunggal Pertiwi. Kedua, pada episode berikutnya Tarumanagara lebih maju dibandingkan Salakanagara, sebagai akibat banyaknya para pendatang yang menetap di Pataruman. Proses alamiah ini membentuk Tarumanagara menjadi kota yang ramai.

    Pembagian Strata sosial
    Dari pernikahan Sang Rajaresi dengan putri Minawati Iswara Tunggal Pertiwi, mempunyai anak bernama Darmayawarman dan Nagawarman. Kelak sepeninggal Sang Rajadirajaguru, Darmayawarman diangkat menggantikannya, dengan gelar Rajaresi Darmayawarmanguru.

    Sang Rajaresi memerintah Tarumanagara selama waktu 13 tahun, dimulai dari tahun 304 Saka (382 M). Ia disebut juga Sang Lumahing Candrabaga, karena ia dipusarakan di Candrabaga. Kemudian ia digantikan putranya yang bernama Purnawarman.Penyenyarahan Kekuasaan Kepada Purnawaraman di karenakan Rajaresi Darmayawarman memilih mendalami ilmu keagamaan.

    Kedudukan Sang Rajaresi di Tarumanagara bukan hanya sebagai pengendali pemerintahan, ia juga pemimpin semua agama yang ada di Tarumanagara. Sama dengan posisi ayahnya dan kesejarahan terbentuknya Tarumanagara. Posisi ini sangat menentukan dalam mengelola sosial kemasyarakatan, bahkan tidak berlebihan jika digunakan sebagai jendela untuk mengetahui sejarah tentang Sunda Wiwitan.

    Dari naskah Wangsakerta ada dua catatan penting yang pernah dilakukan Sang Rajaresi, yakni membagi strata sosial kemasyarakatan dan upaya merubah pola pikir penduduk Tarumanagara untuk tidak lagi menganut agama yang dianut nenek moyangnya.

    Pertama, Sang Rajaresi membagi kasta penduduk Tarumanagara menjadi empat kasta, yakni Brahmana, Ksatriya, Waisya, dan Sudra. Hal ini dimungkinkan, sama dengan yang dianut dalam kepercayaan Hindu, mengingat Sang Rajaresi termasuk penganut Hindu yang taat. Namun ia pun membedakan golongan penduduk kedalam tiga golongan, yakni golongan nista, madya, dan utama.

    Kebijakan ini memberikan hak yang istimewa kepada raja dan para brahmana yang menjalan tugas keagamaan.

    Kedua, Sang Rajaresi berupaya merubah paradigma cara keberagamaan masyarakat Tarumanagara agar tidak lagi menganut agama nenek moyangnya. Upaya Sang Rajaresi ini sangat penting untuk ditelaah lebih jauh, karena masih banyak para ahli sejarah dan penganut agama lain yang mensinkretiskan masyarakat tatar sunda dan parahyangan padaan dahulu sebagai penganut Hindu dan penyembah rokh nenek moyang.

    Secara resmi sentuhan dengan budaya luar (India) sudah mulai nampak ketika Dewawarman I menggantikan Aki Tirem. Namun sampai saat ini tidak diketahui adanya benturan, kecuali dari tutur tinular yang mengisahkan lahirnya penanggalan Saka Sunda.

    Didalam Naskah Wangsakerta dijelaskan pula, sentuhan budaya Hindu di Jawa Barat ini menandakan sejarah Jawa Barat memasuki masa kerajaan dengan konsep kerajaan yang kemudian bersumber dari tradisi India. Namun tidak berarti seluruh masyarakat di tatar sunda beralih agama menjadi agama yang dianut raja-rajanya. Karena di jaman pemerintahan Sang Rajaresi ditemukan agama (ageman) yang tidak sama dengan agama yang dianut rajanya. Agama ini oleh Sang Rajaresi disebut sebagai agama yang memuja rokh nenek moyang.

    Sampai saat inipun belum ada nama resmi dari agama tersebut, apalagi dengan adanya penetapan yang dituangkan dalam SK Menteri, agama ini digabungkan dalam wadah aliran kepercayaan, yang pembinaannya tidak dilakukan oleh Departemen agama. Jika ditenggarai dari istilah yang saat ini berkembang, maka lebih tepat jika dikatagorikan pada agama Urang Sunda Wiwitan (Wiwitan = awal = asal mula).

    Berdasarkan peninggalan arkeologis dan naskah-naskah Sunda buhun, agama sunda wiwitan dapat dikatagorikan monoteisme. Dalam perkembangannya ada juga pengaruh ajaran agama lain. Konon kabar, keaslian agama urang sunda dapat dilihat dari agama yang dianut masyarakat Kanekes (Baduy tangtu) Banten.

    Menurut keterangan pu’un di Kanekes, ageman Sunda Wiwitan menganggap adanya Sang Hyang Keresa (Tuhan yang Maha Kuasa), yang disebut juga Batara Tunggal (Yang Maha Tunggal), Batara Jagat (Penguasa Jagat) dan Batara Seda Niskala (Yang maha Ghaib). Dalam paradigma agama Sunda Wiwitan, alam ini dibagi tiga, yakni Buana Nyungcung (Dunia Atas), Buana Tengah (Tempat manusia) dan Buana Larang (neraka).

    Naskah Carita Parahyangan menyebutkan ageman Urang Sunda Wiwitan sebagai agama Jatisunda, berasal dari kata wiwitan-mula-mula – awal – pokok. Sedangkan saripati dari ajaran ini belum sedemikian dikenal, mengingat adanya sikap yang tertutup dari para penganutnya saat ini. Ketertutupan ini menimbulkan spekulasi dari para penganut agama lain untuk menempatkan agama Jatisunda sebagai ageman yang bukan agama, bahkan ada yang sinis menyebutnya atheis, sehinga perlu diajak untuk masuk agamanya.

    Upaya serius yang dilakukan Sang Rajaresi dilakukan pula melalaui cara mengajarkan agamanya kepada para penghulu desa yang ada disekitar Tarumanagara. Iapun mendatangkan brahmana-brahmana dari India. Namun upaya ini tidak seluruhnya membuahkan hasil, karena masih banyak penduduk Tarumanagara yang menganut agama nenek moyangnya (*Masa keeamasan Tarumanagara disebut-sebut terjadi pada jaman Purnawarman, bergelar Sri Maharaja Purnawarman Sang Iswara Digwijaya Bhimaprakarma Suryamahapurusa Jagatpati. Pembangun Tarumanagara (bukan Pendiri).

    Ia disebut juga narendraddhvajabuthena (panji segala raja), atau sering disebut Maharaja Purnawarman, berkuasa pada tahun 317 Saka (395 M), meningal pada 356 Saka (434 M), dipusarakan di Citarum, sehingga disebut juga Sang Lumah ing Tarumadi. 

    Kemasyhuran Tarumanagara diabadikan didalam Prasasti jaman Purnawaraman, tentang dibangunnya pelabuhan dan beberapa sungai sebagai sarana perekonomian ; pada masa Purnawarman, Tarumanagara menaklukan raja-raja kecil di Jawa Barat yang belum mau tunduk.

    Prasasti-prasasti tersebut juga menjelaskan tentang raja tarumanagara ; menggali kali gomati sepanjang 6122 busur ; wilayahnya meliputi Bogor dan Pandeglang, bahkan pada perkembangan berikutnya, Tarumanagara mampu melebarkan sayap kekuasaan nya. Perluasan daerah Tarumanagara dilakukan melalui jalan perang maupun jalan damai, berakibat wilayah Tarumanagara menjadi jauh lebih luas dibandingkan ketika masih dipimpin Rajadirajaguru dan Raja Resi.

    Pada jaman ini pula, masalah hubungan diplomatic ditingkat. Sehingga wajar jika Pustaka Nusantara menyebutkan kekuasaan Purnawarman membawahi 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang) sampai ke Purwalingga (Purbalingga) di Jawa Tengah. Sehingga memang secara tradisional Cipamali (Kali Brebes) dianggap batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa Barat pada masa silam. Hal yang sama dapat ditenggarai dari masa Manarah(ciung Wanara) dan Sanjaya di Galuh.

     

    Pembangunan Wilayah Tarumanagara

    Kisah Purnawarman secara terperinci diuraikan didalam Pustaka Pararatvan I Bhumi Jawadwipa. Langkah pertama yang dilakukannya, ia memindahkan ibukota kerajaan kesebelah utara ibukota lama, ditepi kali Gomati(Bekasi, dikenal dengan sebutan Jayasingapura. Kota tersebut didirikan Jayasingawarman, kakeknya. Kemudian diberi nama Sundapura (kota Sunda). Iapun mendirikan pelabuhan ditepi pantai pada tahun 398 sampai 399 M. Pelabuhan ini menjadi sangat ramai oleh kapal-kapal kerajaan Tarumanagara.

    Raja Tarumanagara pada masa Purnawarman sangat memperhatikan pemeliharaan aliran sungai. Tercatatat beberapa sungai yang diperbaikinya :

    Pada tahun 410 M ia memperbaiki kali Gangga hingga sungai Cisuba, terletak di daerah Cirebon, termasuk wilayah kekuasaan kerajaan Indraprasta

    Pada tahun 334 Saka (412 M) memperindah alur kali Cupu yang terletak di kerajaan Cupunagara yang mengalir hingga istana raja.

    Tahun 335 Saka (413 M) Purnawarman memerintahkan membangun kali Sarasah atau kali Manukrawa (Cimanuk).

    Tahun 339 Saka (417 M), memperbaiki alur kali Gomati dan Candrabaga, yang sebelumnya pernah dilakukan oleh Rajadirajaguru, kakeknya Tahun 341 Saka (419), memperdalam kali Citarum yang merupakan Sungai terbesar di Wilayah kerajaan Tarumanagara

    Proses dan hasil pembangunan beberapa sungai diatas menghasilkan beberapa implikasi, yakni dapat memperteguh daerah-daerah yang dibangun sebagai daerah kekuasaan Tarumanagara. Kedua, karena sungai pada saat itu sebagai sarana perkenomian yang penting, maka pembangunan tersebut membangkitkan perekonomian pertanian dan perdagangan Tarumanagara.

    Kesimpulan yang dapat di tarik adalah,Jayasingawarman adalah Raja Tarumanagara I memerintah dari Tahun 280 saka(358 M)sampai 304 saka (382 M) ,beliau mangkat dan di gantikan anaknya Darmayawarman yang memerintah tahun 304 Saka (382 M) sampai 317 Saka (395 M) beliau memerintah selama 13 tahun kemudian beliau memilih untuk mendalami ilmu agama dan menyerahkan pada Putranya,Purnawarman  Pada 317 Saka (395 M).

     

    Politik dan Keamanan di bawah Raja Purnawarman,

    Sejak pra Aki Tirem wilayah pantai barat pulau jawa tak lekang dari gangguan para perompak, bahkan keberadaan Salakanagara tak lepas pula dari perlunya penduduk Kota Perak mempertahankan diri dari gangguan para perompak. Disinilah sebenarnya Dewawarman I berkenalan dengan masyarakat Jawadwipa dan dari thema ini pula masyarakat Jawa Barat bersentuhan dengan kebudayaan India.

    Konon kabar ketika masa Salakanagara, pemberantasan perompak dianggap sulit, bahkan menurut cerita rakyat, ketujuh putra Dewawarman yang terakhir terbunuh dilaut ketika menghalau para perompak. Para perompak yang paling ganas berasal dari laut Cina Selatan, sehingga Sang Dewawarman menganggap perlu untuk membuka jalur diplomatik dengan Cina dan India.

     

    Gangguan para perompak dialami juga ketika jaman Purnawarman, bahkan wilayah laut jawa sebelah utara, barat dan timur telah dikuasai perompak. Semua kapal diganggu atau dirampas, yang terakhir para perompak berhasil menyandera dan membunuh seorang menteri kerajaan Tarumanagara dan para pengikutnya.

     

    Untuk menghancurkan para perompak, Sang Purnawarman langsung memimpin pasukan Tarumanagara. Kontak senjata pertama terjadi diwilayah Ujung Kulon. Para perampok tersebut dibunuh dan dibuang kelaut. Sedemikian marahnya Purnawarman. Sejak peristiwa itu daerah tersebut menjadi aman, karena Purnawarman menghukum mati setiap perompak yang tertangkap.

    Untuk meneguhkan hubungan diplomatik, banyak anggota kerajaan yang menikah dengan keluarga raja lain. Purnawarman memiliki permaisuri dari raja bawahannya, disamping istri-istri lainnya dari Sumatra, Bakulapura, Jawa Timur dan beberapa daerah lainnya.
    Dari permaisuri ini kemudian lahir sepasang putra dan putri. Putra Purnawarman bernama diberinama Wisnuwarman, kelak menggantikan kedudukannya sebagai raja Tarumanagara. Sedangkan adiknya dinikahi oleh seorang raja di Sumatera. Konon dikemudian hari di Sumatera terdapat raja besar yang bernama Sri Jayanasa, dari kerajaan Sriwijaya (pada saat itu masih dibawah kerajaan Melayu), ia adalah keturunan Purnawarman.

     

    Pemberontakan Cakrawarman

    Pada saat Purnawarman meninggal Tarumanagara membawahi 46 raja-raja kecil. Sungguh kekuasaan yang besar dan perlu raja yang mampu dan kuat untuk melanjutkan kekuasaan ini. Ia kemudian digantikan oleh putranya, yakni Wisnuwarman, dinobatkan tahun 356 Saka (434 M), Ia memerinta selama 21 tahun.

    Wisnuwarman meneruskan kebijakan ayahnya, namun ia jauh lebih bijaksana dibandingkan Purnawarman yang dianggap bertangan besi. Untuk menjaga eksistensi Tarumanagara, penobatan ini diberitahukan keesegenap Negara sahabat dan bawahannya.

    Pada awal pemerintahan Wisnuwarman sudah beberapa kali mengalami upaya pembunuhan. Hingga kemudian diketahui, bahwa actor intellectual upaya pembunuhan itu adalah Cakrawarman, pamannya sendiri, adik Purnawarman.

     

    Cakrawarman dimasa Purnawarman menjabat sebagai panglima angkatan perang. Ia sangat setia mendampingi kakaknya dalam upaya melebarkan sayap kekuasaan Tarumanagara. Ia dianggap orang kedua di Tarumanagara. Sepeninggal Purnawarman Ia diharapkan para pengikutnya untuk menggantikan Purnawarman.

     

    Upaya makar sebenarnya tidak akan pernah terjadi jika Cakrawarman tidak berambisi dan yakin terhadap kepemimpinan Wisnuwarman yang mampu melanjutkan kekuasaan Purnawarman. Keraguannya sangat beralasan, mengingat Cakrawarman tidak bertabiat seperti ayahnya, yang tegas dan tanpa kompromi terhadap lawan-lawannya. Namun patut diakui, sejak masa Wisnuwarman keadilan dan kemakmuran Tarumanagara bisa dapat tercapai.

     

    Upaya makar yang dilakukan pula oleh para pejabat istana yang setia kepada Cakrawarman, seperti Sang Dewaraja (wakil panglima angkatan perang), Sang Hastabahu (kepala bayangkara), Kuda Sindu (wakil panglima angkatan laut), serta pejabat angkatan perang dan para pejabat kerajaan-kerajaan bawahan Tarumanagara.

     

    Cakrawarman akhirnya terbunuh dalam suatu pertempuran di sebelah selatan Negara Indraprahasta, tidak jauh dari Sungai Cimanuk. Ia terbunuh oleh pasukan Bhayangkara Indraprahasta, kerajaan dibawah Tarumanagara yang setia kepada Wisnuwarman. Sejak peristiwa tersebut, pasukan bhayangkara Tarumanagara selalu dipercayakan kepada orang-orang Indraprahasta.

    Pemberian Otonomi

    Kisah penumpasan pemberontakan Cakrawarman memberikan pelajaran terhadap pihak keraton dan raja-raja dibawah Tarumanagara untuk tidak mengulang peristiwa yang sama. Keteguhan kekuasaan selanjutnya dirubah, dari yang bersifat tangan besi dijaman Purnawarman menjadi perilaku adil dan bijaksana. Ia memperhatikan kesejahteraan rakyat dan mengayomi raja-raja yang ada dibawah kekuasaannya.

    Suri ketauladan Wisnuwarman digambarkan ketika menggagalkan upaya Pemberontakan Cakrawarman. Secara bijak ia mengadili orang-orang suruhan Cakrawarman untuk memberitahukan actor intelectualnya. Ia memperlakukan tersangka dengan baik dan secara cerdik dijanjikan tidak akan dihukum mati. Kemudian iapun mendapatkan informasi tentang actor intellectual dimaksud.

     

    Kebijaksanaan yang ia miliki dijadikan suri tauladan oleh generasi penerusnya, Indrawarman danCandrawarman. Sang Maharaja Indrawarman bergelar Sang Paramartha Sakti Maha Prabawa Lingga Triwikrama Buanatala. Berkuasa selama 60 tahun, sejak 377 sampai dengan 437 Saka (455 – 515 M), sedangkan Indrawarman bergelar Sri Maharaja Candrawarman bergelar Sang Hariwangsa Purusasakti Suralaga Wangenparamarta, berkuasa selama 20 tahun, sejak tahun 437 sampai dengan 457 saka (515 – 535 M).
    Pada masa pemerintahannya memang banyak penduduk yang beragama Wisnu, namun tidak pernah terdengar adanya benturan, Situasi keagamaan digambar-kan tidak ada yang saling curiga dan cemburu (tan hanekang irsya). Peristiwa yang dapat dianggap monumental ketika menyerahkan pemerintahan raja-raja daerah kepada trah turunanan masing-masing, atas dasar kesetiaan kepada raja Tarumanagara. Peristiwa ini terjadi pada 454 Saka (532 M).

     

    Suatu hal yang perlu diteladani, pembagian atau penyerahan pengawasan pusat ke daerah masing-masing bukan suatu barang baru di tatar sunda. Hanya saja banyak ragam proses yang perlu dilalui. BIasanya perlu ada desakan – tekanan dan permintaan agar pusat mau memberikan otonomi. Dalam peristiwa Tarumanagara justru sebaliknya, pemberian otonomi kepada raja-raja dibawahnya dilakukan ketika Negara dalam keadaan yang stabil. Peristiwa ini digambarkan didalam naskah Wangsakerta (Jawa dwipa Sarga 1) dan disebut adanya perubahan paradigma raja-raja tarumanagara, dari tangan besi kearah pengendoran kekuasaan.

     

    Tindakan monumental tersebut kemudian diabadikan dalam bentuk prasasti ketika jaman Raja Suryawarman Raja Tarumanagara ke VII menggantikan Chandrawarman , yang ditemukan didaerah Pasir Muara (Cibungbulang). Isi prasasti tersebut sebagai berikut :

     

    Ini sabdakalanda rakryan juru pangambat

    wi kawihaji panyca pasagi marsa

    Ndeca barpulihkan haji sunda

    Ini tanda ucapan rakyan juru pangambat

    (tahun) 458 pemerintahan

    daerah dipulihkan kepada raja sunda.

    Kesimpulan yang dapat di tarik adalah sepeninggal Rajaresi Darmayawarman ,Purnawarman mengantarkan Tarumanagara ke Zaman Keemasanya,Pelebaran kekuasaan,Pembangunan transportasi sungai ,Irigasi dan Hubungan Keagamaan menjadikan Tarumanagara menjadi kerajaan yang besar di Barat Pulau jawa dan sebagian Sumatra,Mangkatnya Prabu Purnawarman di Gantikan Putranya,Wisnuwarman yang cenderung kurang tegas dalam kepemimpinanya tetapi sangat memperhatikan kesejahteraan rakyat,Hal ini mendorong Pamanya Cakrawarman melakukan Pemberontakan terhadap Wisnuwarman,yang selanjutnya dapat di padamkan oleh Pasukan Bayangkara dari kerajaan Bawahan Tarumanagara,Indraprahasta.selanjutnya Indrawarman menggantikan Wisnuwarmandan memerintah Tarumanagara selama 50 tahun,pada tahun 437-457 Saka (515-535 M) Tarumanagara di pimpin oleh Chandrawarman.Yang pada selanjutnya Suryawarman menggantikan Chandrawarman sebagai Raja Tarumanagara ke VII.

  • Edited and Posted by Fajar D Herdiyan

     

     

     

     

    September 5, 2009 - Posted by | BABAK II

    No comments yet.

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: