Ranahpasundan's Blog

Just another WordPress.com weblog

Babak IV Lahirnya Kerajaan SUNDA


Kerajaan Sunda  (669-1579 M) Menurut naskah Wangsakerta merupakan kerajaan yang didirikan menggantikan KerajaanTarumanagara yang makin Turun Pamornya,apalagi setelah Lepasnya Galuh dari Tarumanagara praktis Kekuasaan Tarumanagara terbagi menjadi Dua,SUNDA dan GALUH.Istilah Sunda di pakai Tarusbaya dan kemudian Memindahkan Ibukota nya ke Sundapura,karena Tarusbaya sebelum menggantikan mertuanya, Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi  adalah Raja Sunda,Waktu dia berkuasa di Sunda,kerajaan sunda merupakan kerajaan bawahan Tarumanagara.Adalah Wretikandayun Cicit dari Raja Purnawarman ke VII Suryawarman yang menganuhgrahkan Manikmaya ,menatunya sebuah daerah di  Kendan beserta rakyat dan tentara.Dan pada perkembangan berikutnya kerajaan Kendan menjadi kerajaan yang membawahi berpuluh puluh kerajaan kecil,pada akhirnya sang Wretikandayun memerintah Kendan dan memindahkan  ibukota nya ke Galuh di Kawali.Hingga akhirnya menjadi kerajaan Galuh pakuan.

Sedangkan Kerajaan Sunda  tahun 591 Saka ( 669 M) yang di Perintah Oleh Tarusbawa saat itu juga membawahi Sumatra bagian selatan akibat pernikahan putra mahkotanya dengan putri dari kerajaan Lampung.

Setelah memindahkan Pemerintahan Ke Sundapura,Kerajaan Tarumanagara menjadi kerajaan Bawahan Sunda,Tarusbawa Di nobatkan Sebagai Raja Sunda pada  9 pon Suklapaksa,bulan Yista tahun 519 Saka ( 18 Mei 669 M ).Perbatasan Sunda dan Galuh di sepakati pada Aliran Sungai Citarum( Kerajaan Sunda di sebelah Barat Citarum dan Galuh berada di sebelah Timur Citarum sampai ke kali Gomati berbatasan dengan Kerajaan Kalingga.

Tarus bawa  sebenarnya Punya penerus putra mahkota yaitu Rakyan Sundasambada tapi Putra mahkota meninggal waktu masih sangat muda,tinggalah Putri perempuannya Nyai Sekarkancana yang kemudian di nikahkan ke Sanjaya dari Galuh dari pernikahan itu Sanjaya mempunyai anak laki laki bernama rahyang Tamperan,ketika Tarusbawa mangkat (723 M ) Sanjaya menggantikan nya karena Tamperan masih Belia. yang pada saat itu di tahun yang sama Sanjaya naik tahta Galuh dengan menggulingkan Purbasora,yang telah merebut kekuasaan di Galiuh dari tanganBratasenawa ayahanda Sanjaya,sehingga pada saat itu Sunda  dan Galuh bersatu kembali. Pada 732 M Sanjaya  Menyerahkan Kekuasaan Sunda –Galuh kepada Putranya Tamperan,Kemudian Sanjaya memerintah Kalingga (keling) karena Sanjaya merupakan Putra Mahkota kerajaan Kalingga,Ibunda Sanjaya menikah dengan Raja Kalingga.

Sanjaya memerintah Kalingga selama 22 tahun (732-754) kemudian Tahta di serahkan kepada Putranya dari pernikahan dengan Dewi Sudiwara yaitu Rakyan Panangkaran.

Hariangbanga Menikahi Putri dari Saunggalah Dewi Kancanasari dan memperoleh keturunan bernama Rakyan Medang,yang kemudian melanjutkan memerintah Sunda selama 17 tahun (766-783) dengan Gelar Prabhu Hulukujang,karena Hanya memperoleh Keturunan Perempuan selanjutnya Prabhu Hulukujang mewariskan Tahta kepada Menantunya,Rakyan Hujung kulon yang bergelar Prabhu Gilingwesi yang berasal dari Galuh,prabhu Gilingwesi adalah Putra dari Sang Mansiri. Kemudian Prabhu Gilingwesi memerintah Sunda selama 12 tahun,tetapi Prabhu Gilingwesi juga hanya mempunyai keturunan perempuan yang dinikahkan pada Rakyan Diwus,Praktis kekuasaan di jatuhkan pada menantunya Rakyan Diwus yang kemudian Bergelar Prabhu pucukbhumi yang memerintah selama 24 tahun dari tahun 795 M ke tahun 819 M.

 

Prabhu Pucukbhumi  dikaruniai putra mahkota yaitu rakyan Wuwus,yang kemudian menikah dengan Putri dari Sang Welengan (Raja Galuh,806-813).akhirnya Sang Welengan juga mewarisi Tahta galuh,di tangannya Sunda Galuh Kembali di persatukan secara otomatis.beliau bergelar Prabhu Gajah kulon yang  memerintah sampai Mangkat tahun 891 M.

Sepeninggal Prabhu Gajah Kulon Sunda Galuh jatuh ke tangan Adik kandungnya,Arya Kadatwan.Tetapi karena Beliau tidak di sukai oleh para Pembesar Sunda beliau pun Di Bunuh pada tahun 895 M. dan tahta Sunda Galuh jatuh ke tangan Putranya Rakyan Windusakti.

Kekuasaan ini selanjutnya di wariskan kepada Putra mahkotanya,Rakyan kamuninggading pada tahun 913 M. Rakyan Kamuning gading kemudian memegang tahta selama 3 tahun karena kemudian terjadi perebutan kekuasaan yang di mastermind oleh adiknya sendiri,Rakyan Jayagiri pada tahun 916 M. Rakyan Jayagiri memerintah selama 28 tahun,selanjutnya Tahta di wariskan pada menantunya,Rakyan watuagung,pada tahun 942 M.

Tersebutlah Sang Limburkancana putra dari Kamuning gading yang di gulingkan oleh adiknya.sang Limbur kancana membalaskan dendam ayah nya,perebutan oleh sang Limburkancana terjadi pada tahun 954,dan pemerintahanya berakhir pada 964.

Sang limburkancana mewariskan tahta kepada Putra nya Rakyan Sundasambada yang memerintah selama 9 tahun 964-973 M. karena Rakyan Sundasambada tidak memiliki keturunan maka tahta selanjutnya di wariskan pada adik kandung nya Rakyan jayagiri          973-989 M.
Rakryan Jayagiri mewariskan kakuasaanana kepada  putranya, Rakryan Gendang (989-1012), diteruskan oleh cucunya  Prabhu Déwasanghyang (1012-1019 M). dari Déwasanghyang, kakuaasaan diwariskan pada putranya, selanjutnya  Dewasanghyang membuat  prasasti Cibadak, Sri Jayabhupati (1030-1042). Sri Jayabhupati adalah menantunya Dharmawangsa Teguh dari Jawa, mertua dari  raja Airlangga (1019-1042).

Dari Sri jayabhupati kekuasaan selanjutnya di wariskan ke putranya,Dharmaraja pada tahun 1042-1064. Selanjutnya diteruskan oleh cucu  dari menantunya  Prabhu Langlangbhumi pada 1064-1154 M.

Pada 1154 Putra mahkota meneruskan tahta kerajaan Rakyan jayagiri 1154 sampai 1156 M.Cuma 2 tahun memerintah kemudian Rakyan jayagiri mewariskan pada cucunya Prabhu Dharmakusuma tahun 1156-1175 M.

Pada pemerintahan Prabhu Dharmakusuma kekuasaan Sunda Galuh di wariskan pada putranya,Prabu Guru Dharmasiksa,yang di anugrahi umur panjang dan memerintah selama 122 tahun dari tahun 1175 -1297 M.Dharmasiksa memerintah Sunda Galuh dari Saunggalah memerintah selama 12 tahun selanjutnya memindahkan ibukota kerajaan ke Pakuan pajajaran tempat Moyangnya  memerintah dahulu (Tarusbawa)

Sepeninggal Prabhu Dharmasiksa,kekuasaan Sunda Galuh jatuh ke Putranya Rakyan Saunggalah dengan gelar Prabhu ragasuci,yang memegang pemerintahan selama 6 tahun 1297-1303 M.

 Prabhu Ragasuci selanjutnya  digantikan oleh putranya,Prabhu Citraganda yang berkuasa selama 8 tahun 1303-1311 M.keturunan Citraganda selanjutnya yang  memerintah yaitu Prabhu Linggadewata 1311-1333.karena prabhu linggadewata tidak di karuniai putra mahkota maka kekuasaan di teruskan oleh menantunya,Prabhu Ajiguna Linggawisesa dan memerintah  pada1333-1340 M. selanjutnya di gantikan oleh  Prabhu ragamulya Luhurprabawa pada       1340 M.

Beliau memerintah selama 10 tahun sampai tahun 1350 M. Putra mahkota yang meneruskan adalah Prabhu maharaja Linggabuanawisesa pada 1350-1357,pada akhir pemerintahannya Prabhu Maharaja Linggabuanawisesa gugur di palagan  Bubat saat akan menikahkan Putrinya Dyah pitaloka citraresmi,kepada Raja Majapahit,Prabhu  Hayamwuruk,Baca: Dyah pitaloka,darah dan airmata kawali.

Saat terjadi perang berdarah di Bubat Putra mahkota saat itu masih belia yaitu Niskalawastukancana,beruntung putra mahkota saat itu tidak mengiringi kakak dan orangtuanya ke majapahit,sehingga Niskalawastukancana terhindar dari amuk Mahapatih Gajah mada.

Untuk mengisi posisi raja yang kosong pada saat itu Patih Mangkubhumi Sang Prabhu Bunisora meneruskan tampuk tahta Sunda –Galuh pada 1357 sampai 1371 M.pada saat itu Putra Mahkota telah dewasa dan meneruskan sebagai  Raja Sunda Galuh sepeninggal Prabhu Bunisora.Prabhu Niskalawastukancana memerintah selam 104 tahun.pada 1371-1475 M.

Prabhu Niskalawatukancana mempunyai 2 permaisuri yaitu

Nay ratna sarkati yang di anugrahi seorang putramahkota bernama Sang Haliwangun.setelah Sang Haliwangun dewasa beliau di anugrahi kekuasaan di Sunda yaitu batas sungai citarum ke barat Sang Haliwangun menjadi raja Sunda dengan gelar Prabhu Susuktunggal beliau memerintah dari Pakuan pajajaran yang kemudian membangun sebuah keraton Sri Bhima Punta Narayana Madura Suradipati.pemerintahanya terbilang lama 1382-1482 M.sedangkan dari Citarum ke timur masih di pegang oleh Prabhu Niskalawastukancana.

Nay Ratna Mayangsari,memberikan keturunan putra mahkota yang bernama Ningratkancana setelah Ningrat mewarisi kekuasaan Ayahnya(Prabhu Niskalawastukancana)beliau bergelar Prabhu Dewaniskala,yang meneruskan pamerintahan Niskalawastukancana dari batas citarum ke arah timur,praktis Sunda dan Galuh terbagi 2 kembali,tetapi Prabhu Ningratkancana memerintah galuh tidak selama kakak tirinya yang memerintah Sunda,PrabhuNingratkancana memerintah selama 7 tahun pada 1475-1482 M.

Raja Sunda dan raja Galuh ingin mempersatukan kembali kedua kerajaan ini dengan menikahkan Jayadewata (putra mahkota Galuh) dengan Ambetkasih Putri dari Sunda(putra Prabhu susuktunggal) akibat dari  pernikahan itu praktis Sunda Galuh menjadi satu kerajaan.pada 1482 Jayadewata memerintah sunda Galuh dengan Gelar Sribaduga Maharaja.

Kerajaan Sunda mengalami keemasan pada masa Sri Baduga Maharaja, Sunda-Galuh dalam prasasti disebut sebagai Pajajaran dan Sri Baduga disebut oleh rakyat sebagai Siliwangi, dan kembali ibukota pindah ke barat.

Menurut sumber Portugis, di seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki kira-kira 100.000 prajurit. Raja sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor. Di laut, Pajajaran hanya memiliki 6 buah Jung (kapal laut model Cina) untuk perdagangan antar-pulaunya (saat itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000 ekor/tahun).

Sepeninggal Sribaduga Maharaja,kekuasaan Sunda-Galuh di perintah oleh Putramahkotanya yaitu Prabhu Surawisesa pada 1521-1535,pada masa pemerintahan nya prabhu surawisesa pernah menandatangani plakat dengan Portugis yang isinya Portugis di perbolehkan membangun benteng dan misi dagang di pelabuhan Sundakalapa sebagai imbalanya Portugis di wajibkan memberi perlindungan dan membantu Sunda atas serangan dari Cirebon yang baru memisahkan diri dari Sunda serta membendung serangan dari Demak.selanjutnya prabhu Dewatabhuanawisesa memerintah tahun 1535-1543,kemudian digantikan oleh Prabhu sakti pada 1543-1551,Prabhu Nilakendra melanjutkan pada 1551-1567,selanjutnya keberadaan kerajaan sunda di tutup oleh Prabhu Suryakancana  yang  memerintah pada 1567-1579 runtuhnya kerajaan Sunda-Galuh di sebabkan Serangan dari Kasultanan Banten yang beberapa kali melakukan penyerangan ke Pajajaran dengan misi meng-Islamkan tanah pasundan.Baca 

Runtuhnya Kekuasaan Sunda-Galuh.

 

Raja-raja Kerajaan Sunda

Di bawah ini urut urutan Raja raja yang memerintah SUNDA menurut naskah pangeran Wangsakerta dalam tahun Masehi :

1. Tarusbawa (menantu Linggawarman, 669 – 723)
2. Harisdarma, atawa Sanjaya (menantu Tarusbawa, 723 – 732)
3. Tamperan Barmawijaya (732 – 739)
4. Rakeyan Banga (739 – 766)
5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766 – 783)
6. Prabu Gilingwesi (menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang, 783 – 795)
7. Pucukbumi Darmeswara (menantu Prabu Gilingwesi, 795 – 819)
8. Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon (819 – 891)
9. Prabu Darmaraksa (adik kandung  Rakeyan Wuwus, 891 – 895)
10. Windusakti Prabu Déwageng (895 – 913)
11. Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi (913 – 916)
12. Rakeyan Jayagiri (menantu Rakeyan Kamuning Gading, 916 – 942)
13. Atmayadarma Hariwangsa (942 – 954)
14. Limbur Kancana (putra Rakeyan Kamuning Gading, 954 – 964)
15. Munding Ganawirya (964 – 973)
16. Rakeyan Wulung Gadung (973 – 989)
17. Brajawisésa (989 – 1012)
18. Déwa Sanghyang (1012 – 1019)
19. Sanghyang Ageng (1019 – 1030)
20. Sri Jayabupati (Detya Maharaja, 1030 – 1042)
21. Darmaraja (Sang Mokténg Winduraja, 1042 – 1065)
22. Langlangbumi (Sang Mokténg Kerta, 1065 – 1155)
23. Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur (1155 – 1157)
24. Darmakusuma (Sang Mokténg Winduraja, 1157 – 1175)
25. Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu (1175 – 1297)
26. Ragasuci (Sang Mokténg Taman, 1297 – 1303)
27. Citraganda (Sang Mokténg Tanjung, 1303 – 1311)
28. Prabu Linggadéwata (1311-1333)
29. Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340)
30. Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350)
31. Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (Gugur di palagan  Perang Bubat, 1350-1357)
32. Prabu Bunisora (1357-1371)
33. Prabu Niskalawastukancana (1371-1475)
34. Prabu Susuktunggal (1475-1482)
35. Jayadéwata (Sri Baduga Maharaja, 1482-1521)
36. Prabu Surawisésa (1521-1535)
37. Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543)
38. Prabu Sakti (1543-1551)
39. Prabu Nilakéndra (1551-1567)
40. Prabu Ragamulya atawa Prabu Suryakancana (1567-1579)

BERSAMBUNG…….

Di edit oleh

Fajar Dwi Herdiyan

dari kitab kitab:

* Aca. 1968. Carita Parahiyangan: naskah titilar karuhun urang Sunda abad ka-16 Maséhi. Yayasan Kabudayaan Nusalarang, Bandung.
* Ayatrohaédi. 2005. Sundakala: cuplikan sejarah Sunda berdasarkan naskah-naskah “Panitia Wangsakerta” dari Cirebon. Pustaka Jaya, Jakarta.
* Édi S. Ékajati. 2005. Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta. Pustaka Jaya, Jakarta. ISBN 979-419-329-1
* Yoséph Iskandar. 1997. Sejarah Jawa Barat: yuganing rajakawasa. Geger Sunten, Bandung.

September 10, 2009 - Posted by | 1, BABAK IV Lahirnya Kerajaan Sunda

1 Comment »

  1. makasih 🙂🙂🙂🙂

    Comment by sang PENCERAH | February 9, 2012 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: