Ranahpasundan's Blog

Just another WordPress.com weblog

Babak IX Tragedy Bubat


Peristiwa Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk untuk mempersunting putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit yang dilukis secara diam-diam oleh Sungging Prabangkara,seniman lukis pada masa itu.

Alasan ini hampir sama dengan yang dimuat di Buku Novel tentang Bubat. Dyah Pitaloka di gambar secara diam-diam atas perintah keluarga keraton, bertujuan untuk mengetahui paras Sang Putri.

Alasan yang mungkin dapat masuk akal dipaparkan oleh penulis sejarah Pajajaran, yakni Saleh Danasasmita dan penulis naskah Perang Bubat, yakni Yoseph Iskandar. Kedua akhli sejarah ini menyebutkan, bahwa niat pernikahan itu untuk mempererat tali persaudaraan yang telah lama putus antara Majapahit dan Sunda. Urang Sunda masih merasa saudara dengan urang Majapahit,. Karena Raden Wijaya yang menjadi pendiri Majapahit,masih keturunan Sunda. Pernikahan demikian dianggap wajar dimasa lalu, sama seperti yang dilakukan raja-raja sebelumnya. Seperti hubungan Galuh dengan Kalingga dijaman Wretikandayun, yang menikahkan Mandiminyak, putranya dengan Parwati, Putri Ratu Sima (Lihat hubungan Sunda dengan Majapahit).

Niat Prabu Hayam Wuruk untuk memperistri Dyah Pitaloka telah direstui keluarga kerajaan majapahit, sehingga tak lagi ada masalah dengan status kedua kerajaan, kecuali untuk melangsungkan pernikahan. Selanjutnya Hayam Wuruk mengirim surat lamaran kepada Maharaja Linggabuana dan menawarkan agar upacara pernikahan dilakukan di Majapahit.

Tawaran Majapahit tentunya masih dipertimbangkan, terutama oleh Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati.Adik dari Prabhu linggabuana. Pertama, masalah lokasi atau tempat pernikahan.

Pada waktu itu adat di Nusantara menganggap tidak lazim jika pihak pengantin perempuan datang kepada pihak pengantin lelaki.

 Kedua, diduga alasan ini merupakan jebakan diplomatik Majapahit yang saat itu sedang melebarkan kekuasaannya, diantaranya dengan cara menguasai Kerajaan Dompu di Nusa Tenggara. Namun Prabu Linggabuana hanya melihat adanya rasa persaudaraan dari garis leluhurnya, sehingga ia memutuskan untuk tetap berangkat ke Majapahit.

Rombongan kerajaan Sunda kemudian berangkat ke Majapahit, dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.

Melihat Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit, maka timbul niat lain dari Mahapatih Gajah Mada yaitu untuk menguasai Kerajaan Sunda. Niat gajah Mada ini untuk memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya tersebut. Karena dari seluruh kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan hanya kerajaan sundalah yang belum dikuasai Majapahit. Dengan maksud tersebut dibuatlah alasan oleh Gajah Mada yang menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit, sesuai dengan Sumpah Palapa yang pernah ia ucapkan pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta.

Rencana tersebut di sampaikan kepada Prabu Hayam Wuruk, Gajah Mada pun mendesaknya untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda. Selain diharapkan pula agar sunda mau mengakui mengakui superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri menurut Kidung Sundayana menjadi bimbang. Ia terjebak dalam dilema, antara cinta dan perlunya mentaati saran Gajah Mada. Disisi lain, Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.Terlebih Hayam wuruk paham benar kalau Kerajaan Sunda –Galuh adalah masih bertalian darah dengan nya.Tetapi di luar dugaan Prabhu Hayam wuruk gajah Mada yang menyambut kedatangan rombongan Prabhu Linggabuana wisesa berubah menjadi palagan berdarah di alun alun kotaraja wilwatika Majapahit.

Tragedi Palagan Bubat terjadi pada tahun 1357. Seperti dikisahkan dalam kitab Pararaton diantaranya :

Bre prabhu ayun ing putri ring Sunda. Patih Madu ingutus angundangeng wong Sunda

Terjemahannya adalah : Sri Prabu Hayam Wuruk ingin memperistri puteri dari Sunda. Patih Madu diutus mengundang orang Sunda.

Prabu Maharaja Linggabuana (Raja Sunda Ke 27) dengan permaisurinya Dewi Lara Linsing memiliki puteri cantik jelita yang diberi nama Dyah Pitaloka. Oleh kakeknya Prabu Ragamulya Luhur Prabawa (Raja Sunda ke 26) diberi nama pula Citraresmi. Lahir pada tahun 1339 Masehi. Sang puteri terkenal dengan kecantikannya sehingga dijuluki wajra yang berati permata. Sang Prabu Hayam Wuruk menginginkan untuk memperistri sang Puteri, dimana hal tersebut memiliki alasan logis karena mengingat kekerabatan Sunda – Majapahit yang telah terjalin dengan baik sejak lama. Pendiri Majapahit, yaitu Raden Wijaya yang bergelar Sang Kertarajasa Jayawardhana adalah cucu dari Prabu Darmariksa- Maharaja Sunda.

Untuk itu Bre Majapahit mengutus Patih Madu sebagai utusan kerajaan. Prabu Maharaja Linggabuana menerima lamaran tersebut dan menyetujui untuk melaksanakan upacara pernikahan di keraton kerajaan Majapahit. Namun sayang Mahapatih Gajah Mada tidak menyetujui pernikahan tersebut. Diam – diam ia menginginkan Sang Rajaputeri untuk diserahkan sebagai upeti demi terlaksananya Sumpah Amukti Palapa yang dicanangkannya.

Seperti yang diberitakan oleh kitab Pararaton :

Teka ratu Sunda maring Majapahit, sang ratu Maharaja tan pangaturakan putri. Wong Sunda kudu awaramena tingkahing jurungen. Sira Patihing Majapahit tan payun yen wiwahanen reh sira rajaputri makaturatura.

Yang artinya: “Lalu Raja Sunda datang di Majapahit. Sang Ratu Maharaja tidak bersedia mempersembahkan sang puteri. Orang Sunda harus meniadakan selamatan dan upacara pernikahan kata sang utusan. Sang Mahapatih Majapahit Gajah Mada tidak menginginkan pernikahan resmi, sebab ia menganggap rajaputeri Citraresmi sebagai upeti.”

Akhirnya Sang Patih meluap amarahnya atas penolakan sang Raja Sunda. Ia memerintahkan laskar Majapahit untuk menghabisi Raja beserta pengiringnya yang hanya beberapa puluh orang. Sang Mahaprabu tidak gentar. Ia berseru :

“Walaupun darah akan mengalir bagai sungai di Palagan Bubat ini, namun kehormatanku dan semua ksatria Sunda tidak akan membiarkan penghianatan terhadap negara dan rakyatku. Karena itu , janganlah kalian bimbang!”

 Pertempuran yang tidak berimbang ini mengakibatkan seluruh orang Sunda tewas.Sedangkan Prajurit Gajah mada yang tewas berkisar seribu orang. Sang Ratu dan sang Ratna Citraresmi melakukan bela pati. Pembesar, pengiring, dayang-dayang, tak seorangpun yang tersisa.

Ketika Hayam Wuruk tiba di Palagan Bubat, sangatlah sedih hatinya. Setelah semua jenazah disempurnakan dan dibakar di Bubat, abu jenazah kemudian dikuburkan di Astana Gede, Kawali. Kemudian Sang Prabu Hayam wuruk jatuh sakit yang amat lama. Kerajaan menyalahkan Gajah Mada dan merencanakan agar Gajah Mada ditangkap dan dihukum. Sang Patih melarikan diri dan tak tentu rimbanya. Akhir hidupnyapun tidak diketahui dan dicatat dalam sejarah.!!

Peristiwa Bubat

umuli pasunda-bubat. Bhre prabhu ayun ing putri ring Sunda.Patih Madu ingutus angundangeng wong Sunda.
Tulisan diatas merupakan kisah tragedi bubat, dimuat dalam Berita Pararathon. Kitab tersebut menyebutnya Pabubat atau Pasunda Bubat.

Ahidep wong Sunda yan awarawarangana.Teka ratu Sunda maring Majapahit,

sang ratu Maharaja tan pangaturaken putri.Wong Sunda kudu awiramena tingkahing jurungen.

Sira patihing Majapahit tan payun yen wiwahanen-reh sira rajaputri makaturatura.

Tragedi Bubat terjadi antara Kerajaan Sunda dengan Majapahit, ketika di Majapahit dibawah pemerintahan Prabu Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada, sedangkan Kerajaan Sunda pada waktu di pimpin oleh Prabu Maharaja Linggabuana. Bubat terletak di Wilayah Jawa Timur, sebelah utara Majapahit.

Tragedi Bubat diperkirakan terjadi pada abad Ke-14, tepatnya pada hari selasa, sebelum tengah hari, dasawarsa 6, tahun 1357 M. Menurut Berita dari Nusantara II/2 halaman 62, dikisahkan gugurnya Prabu Linggabuana beserta para ksatria Sunda, sebagai berikut :

‘Selanjutnya dikisahkan, pada tanggal 13 bagian terang bulan Badra tahun 1279 Saka Sang Prabu Maharaja Sunda gugur di Bubat di negeri Majapahit. Saat itu Sang Prabu Maharaja bermaksud menikahkan putrinya yaitu Sang Retna Citraresmi atau Dyah Pitaloka dengan Bre Prabu Majapahit yang bernama Hayam Wuruk dengan julukan Sri Rajasanagara’.

Tragedi Bubat dikisahkan dalam beberapa sumber, antara lain Kidung Sunda ; Kidung Sundayana ; Carita Parahyangan ; Kitab Pararathon ; dan Pustaka Nusantara. Bahkan sudah terbit novel yang bersifat hiburan dan memuaskan keingin tahuan pembaca. Karena tentunya, mengisahkan Gajah Mada tidaklah lengkap jika tidak mencantumkan Peristiwa Bubat.

Seorang pakar Belanda bernama Prof Dr.C.C.Berg, menemukan beberapa versi Kidung Sunda, disinyalir disusun dengan menggunakan bahasa Jawa Pertengahan, berbentuk tembang (syair). Dua di antaranya pernah dibicarakan dan diterbitkannya, yaitu Kidung Sunda dan Kidung Sundayana (Perjalanan Urang Sunda) yang berasal dari Bali.

Di Bali Kidung Sundayana di kenal dengan nama Geguritan Sunda. Mungkin karena Berg kebetulan orang Belanda, dan pada masa lalu banyak menyebar luaskan kepada khalayak, maka masalah Bubat pernah disebut-sebut sebagai upaya Belanda untuk memecah belah Indonesia. Tapi dokumen lainpun selain Kidung Sundayanan atau Geguritan Sunda ditemukan pula, seperti dalam naskah Pararathon dan Pustaka Nusantara. Bahkan sekalipun hanya satu alinea, di dalam Carita Parahyangan pun di muat, sebagai berikut :

* Boga anak, Prebu Maharaja, lawasna jadi ratu tujuh taun, lantaran keuna ku musibat, Kabawa cilaka ku anakna, ngaran Tohaan, menta gede pameulina.
*Urang rea asalna indit ka Jawa, da embung boga salaki di Sunda. Heug wae perang di Majapahit.

Kidung Sunda atau Kidung Sundayana merupakan upaya dan niat baik Prabu Hayam Wuruk untuk menyesalkan masalah bubat. Hayam Wuruk mengirimkan utusan (darmadyaksa) dari Bali yang saat itu berada di Majapahit untuk menyaksikan pernikahannya. Melalui perantara Sang Darmadyaksa itu Hayam Wuruk menyampaikan permohonan maaf kepada Mangkubumi Hyang Bunisora Suradipati, pada waktu itu menggantikan Raja Sunda.dengan menyerahkan Abu dari Prabhu Linggabuana dan Putrinya Dyah pitaloka citraresmi.sampai saat ini abu mereka masih tersimpan di Astana Gede kawali Ciamis. Pada kesempatan itu pula dijanjikan, bahwa : peristiwa bubat akan dimuat dalam Kidung Sunda atau Kidung Sundayana. Semua bertujuan agar dapat diambil hikmahnya.

Di edit dan di ceritakan kembali oleh

Fajar Dwi H.

Dari berbagai sumber.

September 14, 2009 - Posted by | 1, BABAK IX Tragedy Bubat, Babak VII Hubungan Majapahit Sunda Galuh

3 Comments »

  1. dyah pitaloka inspiring me…
    fight ’till the last strength

    Comment by mpluk | October 12, 2009 | Reply

  2. memang seharusnya begitu,kalau merasa benar siapapun hrs mempertahankan kebenaran kita,begitu juga Dyah pitaloka dan keluarga pengiring dari tanah sunda ini……

    Comment by Herdiyan | October 12, 2009 | Reply

  3. Raden Wijaya nerupakan nama yang lazim dipakai para sejarawan untuk menyebut pendiri Kerajaan Majapahit. Nama ini terdapat dalam Pararaton yang ditulis sekitar akhir abad ke-15. Kadang Pararaton juga menulisnya secara lengkap, yaitu Raden Harsawijaya. Padahal menurut bukti-bukti prasasti, pada masa kehidupan Wijaya (abad ke-13 atau 14) pemakaian gelar raden belum populer.

    Nagarakretagama yang ditulis pada pertengahan abad ke-14 menyebut pendiri Majapahit bernama Dyah Wijaya. Gelar dyah merupakan gelar kebangsawanan yang populer saat itu dan menjadi cikal bakal gelar Raden. Istilah Raden sendiri diperkirakan berasal dari kata Ra Dyah atau Ra Dyan atau Ra Hadyan. Nama asli pendiri Majapahit yang paling tepat adalah Nararya Sanggramawijaya, karena nama ini terdapat dalam prasasti Kudadu yang dikeluarkan oleh Wijaya sendiri pada tahun 1294. Gelar Nararya juga merupakan gelar kebangsawanan, meskipun gelar Dyah lebih sering digunakan.

    Menurut Pararaton, Raden Wijaya adalah putra Mahisa Campaka, seorang pangeran dari Kerajaan Singhasari. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, Raden Wijaya adalah putra pasangan Rakeyan Jayadarma dan Dyah Lembu Tal. Ayahnya adalah putra Prabu Guru Darmasiksa, raja Kerajaan Sunda Galuh, sedangkan ibunya adalah putri Mahisa Campaka dari Kerajaan Singhasari. Setelah Rakeyan Jayadarma tewas diracun musuhnya, Lembu Tal pulang ke Singhasari membawa serta Wijaya. Dengan demikian, Raden Wijaya merupakan perpaduan darah Sunda dan Jawa.

    Kisah di atas mirip dengan Babad Tanah Jawi yang menyebut pendiri Kerajaan Majapahit bernama Jaka Sesuruh putra Prabu Sri Pamekas raja Kerajaan Pajajaran, yang juga terletak di kawasan Sunda. Jaka Sesuruh melarikan diri ke timur karena dikalahkan saudara tirinya yang bernama Siyung Wanara. Ia kemudian membangun Kerajaan Majapahit dan berbalik menumpas Siyung Wanara.

    Berita di atas berlawanan dengan Nagarakretagama yang menyebut Dyah Lembu Tal adalah seorang laki-laki, putra Narasinghamurti. Naskah ini memuji Lembu Tal sebagai seorang perwira yuda yang gagah berani dan merupakan ayah dari Dyah Wijaya. Di antara berita-berita di atas, yang paling dapat dipercaya adalah Nagarakretagama karena naskah ini selesai ditulis pada tahun 1365. Jadi, hanya selisih 56 tahun sejak kematian Raden Wijaya.

    Raden Wijaya dalam prasasti Balawi tahun 1305 menyatakan dirinya sebagai anggota Wangsa Rajasa. Menurut Nagarakretagama, Wijaya adalah putra Dyah Lembu Tal, putra Narasinghamurti. Menurut Pararaton, Narasinghamurti alias Mahisa Campaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng putra Ken Arok pendiri Wangsa Rajasa.

    Comment by dildaar80 | January 16, 2011 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: